Hadiah Terakhir dari Mantan Kekasih
Tak sadar pertemuanku dengan mas radhit sudah di penghujung sore, mendung yang sejak tadi menemaniku melewati segala tentangnya semakin menjadi-jadi. Hujan yang belum kunjung datang tampak ingin menunggu pecahnya tangisku atas keselahan yang lalu.
Mas Radhit : nduk aku pulang dulu ya?, (sambil menghabiskan kopinya)
Nimas : kok buru-buruu mas?, diluar mendung sepertinya mau hujan
Mas Radhit : hehe gapapa nduk, takut kemalaman nanti
Nimas : ya udah kalau gitu mas.
Mas Radhit : eh di mana ibumu, aku mau pamit
Nimas : di belakang mas, bentar aku panggil ibu dulu
Mas Radhit : eh, eh , gak usah wes, salamno wae kanggo ibuk mu.
Nampak ibu sudah mengetahui kalau mas Radhit mau pulang, seperti ada ikatan batin di antaranya atau jangan-jangan ibu dari tadi mendengar segala percakapan antara aku dengan mas Radhit.
Ibu Nimas : lho-lho nak, kok buru-buru pulang, padahal ibu sedang memasak untuk mu itu lho.
Mas Radhit : mboten buk, ngrepotne panjenangan malahan niki
Ibu Nimas : woalah, yo ora to, wong wes suwe gak mrene lho, Nimas ajak mas Radhit ke ruang makan!
Hari apa ini sebenarnya, inginku segera pergi ke kamar dan menangis tentangnya atas kesalahan lalu, ibu mempersilakan mas radhit untuk makan bersamanya, apa ibu tidak mengerti aku belum siap untuk berjumpanya, berjalannya waktu aku sedikit bisa melupakannya, namun perjumpaan ini membawaku lagi ke dalam ingatan di mana aku butuh waktu untuk sekedar melupakan cahaya matahari ku dulu.
Nimas : ayo mas makan dulu, gak enak kalau menolak, tuh sudah disiapin ibu (sambil menahan air mata kesekian kalinya)
Mas Radhit : mpun mboten usah nduk. mas tak pulang saja gak enak kalau sampai malam masih disini.
Dalam benakku, aku tak ingin menolak ajakan ibu Nimas. Bahkan, aku ingin lebih lama memandang senyum nimas yang tak lekang oleh waktu itu. Aku ingin hari ini tak segera larut agar perjumpaanku dengannya sedikit meredakan rindu yang terus berkobar sepanjang waktu ini.
Namun aku sadar, aku bukan siapa-siapanya lagi. Tak pantas aku lama-lama disini. Bahkan harus bersemayam dalam ingatan tentangnya. Dia sudah memiliki kekasih yang jauh lebih pantas dariku. Aku tak ingin mengganggunya dan mengingatkan tentang masa laluku dengannya.
Ibu Nimas :ayo nak, gak usah sungkan-sungkan. Anggepen
omah e dewe ae.
Nimas : gheh mas, maem rumiyen mawon kanggo sangu mas
teng ndalan.
Mas Radhit : Sangu nopo nduk ?
Nimas : yo sangu mas ben gak luwe nek ndalan, mas kan
sering kelaparan kalau sedang bepergian.
Mas Radhit : nduk, kok yo tasik eleng niku hehe
Hatiku yang semakin semerawut "Ingatanku tentang mas, tak mungkin ku lupa bahkan perjumpaan ini menyadarkanku dengan segala hal tentang mas".
Mas Radhit (dalam hati) : nduk, kenapa engkau mengingatkanku, dengan segala hal yang berbau rindu ini, mas tak kuat nduk. Aku seperti orang gila menanti kekasih datang dan menemuiku kala aku sedang berjuang melawan takdirku tak bersamamu lagi nduk, (Menahan air mata).
Kau tahu nduk?
Aku masih mencintai mu
Dengan rasa yang tak mengenal fana
Aku merasa di gilakan oleh mendung
Selalu mengantarkanku
Pada fikiran-fikiran tentang mu
Aku mulai menggila memikirkanmu
Entah apa yang terjadi dalam sukmaku
Lolongan cinta
Meneriakan rindu
Selalu menggema
Inginku menahan
Hati nuraniku
selalu mengalahkan akal sehatku
Inginku berpaling, melihat rintikan hujan yang mulai
datang dari luar
Namun, tetap saja
semuanya mengingatkanku
padamu yang sekarang sedang di hadapan ku ini
Akhirnya mas radhit mau ajakan ibu. Kami makan bersama di temani rintikan hujan yang mulai jatuh membasahi atap rumahku. Di tengah lahapnya kami makan, tiba-tiba suasana menjadi hening, saat ibuku menanyakan sesuatu pada mas Radhit
Ibu Nimas : nak Radhit, boleh tanya sesuatu hal?
Mas Radhit : Angsal buk, nopo gheh?
Ibu Nimas : nak sebelumnya ibu minta maaf, ibu mau tanya kenapa dulu engkau putus dengan nimas?
"Gheh menawi mboten jodoh buk", ucap mas Radhit. dengan nada yang halus dan terbata-bata mas Radhit menjawab pertanyaan ibuk. jawaban yang membuatku semakin dilema di tengah perjalananku melalangbuana samudra cinta dengan kang mas. Aku mengerti keadaan mas Radhit, dia membelaku saat aku tak mampu apa-apa, kenapa engkau tak jujur saja kepada ibuk.
akulah penyebabnya
mengapa engkau sekali lagi menjadi matahariku?
ketika aku sudah gagal menjadi permaisurimu
menelantarkan engkau sendirian
bertahun-tahun engkau memikirkanku
sedangkan begitu mudahnya aku
mudah melupakanmu begitu saja
tanpa memberikan kejelasan apapun
Ibu Nimas : wolah yo wes, diterusne lek maem
Mas Radhit : hehehe, enggeh buk
Ibu Nimas : Nimas?
Nimas : dalem buk
Ibu Nimas : kok nangis sampean nduk, enten nopo?
Nimas : Mboten buk, namung kelilipan, hehehe
Air mata yang dari tadi ku sembunyikan dari mas Radhit, akhirnya ketahuan oleh ibuku sendiri, ku bergegas pergi ke kamar mandi meninggalkan mereka berdua. Membersihkan air mataku yang bercucuran keluar, air mataku tak mampu ku bendung di tengah aku melawan masa laluku.
Selesai makan, aku menghampiri mas Radhit yang sedang duduk di teras rumah sambil menikmati rokoknya.
Mas Radhit : Nduk?
Nimas : Dalem mas
Mas Radhit : Maafkan aku ya nduk!
Nimas : Maaf untuk apa mas ?
“Aku tahu kehadiranku disini, membuatmu
merasa terganggu, memang aku masih mencintaimu sampai hari ini. Sedari aku
kehilanganmu dulu, aku tak parnah berfikiran untuk mencari sosok penggantimu. Aku
pernah berbulan-bulan tak bisa tidur karna memikirkanmu. Setiap saat di jalanan
suaramu, parfumu, baju bahkan wajahmu seperti mengikuti setiap saat aku
menjalankan segla aktivitasku. Aku berharap itu semua memang benar-benar
engkau, namun semua ternyata adalah hanya fikiranku yang membuat disekelilingku
seperti ada kehadiranmu, aku tak pernah menyalahkanmu, karna aku yakin dibalik
kepergianmu meninggalkanku pasti ada sesuatu yang tak bisa engkau ceritakan
kepadaku. Sekali lagi mas minta maaf nduk”, ucap mas Radhit.
Segitukah mas engkau tak bisa melupakanmu,
mengapa engkau tak bersanding dengan sahabatku yang sekian lama menginginkanmu.
Mengapa engkau sampai sekarang masih mencintaiku dan begitu yakin tak pernah
merasa curiga di balik aku meninggalkanmu?.
“Nduk, niatku kesini selain silaturahmi,
aku mau pamit, aku ditugaskan dari tempat kantor kerjaku untuk mengelola
usahanya di luar jawa. Mungkin ini adalah pertemuan pertama dan terakhirku
semenjak lulus dari SMA. Aku ingin melupakan segala kenangan yang pernah
terukir indah di Kota ini yaitu bersamamu, aku harus bangki dan meneruskan
perjalanan hidupku tanpamu. Dulu mas pernah berjanji padamu, jika kelak lulus
dari SMA aku memberimu buku, sampai sekarang aku belum memberikanmu karna
engkau begitu saja pergi tanpa pamit dan ini kesempatanku untuk memberikannya
padamu”, Ucap mas radhit sambil meniupkan asap rokoknya ke langit yang sejak
tadi menangis melihat perbincanganku dengan mas Radhit.
Aku menebak apa yang ingin dikasih oleh mas Radhit padaku, aku seperti menghayal yang di berikannya padaku adalah buku novel-novel yang dari dulu memang sangat kugemari untuk dibaca.
Mas Radhit : Ini nduk buku penelitian dan pembelajaran untukmu. Memang aku sengaja tak memberimu sebuah buku seperti novel-novel yang sedari dulu menjadi bagian dari hidupmu, semoga cepat lulus nduk!.
Nimas : enggeh aamiin, aku sudah terimaksih dan bersyukur mas Radhit sudah memberikan hadiah buku tersebut padaku.
Mas Radhit : Tahu ndak, mas memberimu buku itu untuk apa?
Nimas : ya buat referensi tugas akhirku lah mungkin mas, hehehe (tersenyum)
Mas Radhit : ya mungkin memang itu manfaatnya, selain itu mungkin ini adalah hari dimana aku bisa membantumu untuk terakhir kalinya, aku tak bisa memberimu dan bisa berguna lagi selain memberimu buku tersebut, aku pamit dulu ya nduku?
Nimas : Lho masih hujan itu mas
Mas Radhit : gapapa nduk, takut kemalaman nantinya.
Nimas : ya udah mas, hati-hati gheh?
Mas Radhit : oh iya nduk, aku hanya berpesan jagalah kang mas, aku yakin dia adalah lelaki yang cocok dan pantas untukmu. Aku di jauh sana akan tetap selalu mendoakanmu semoga hubunganmu dengannya bisa sampai ke mahligai pernikahan kelak nanti.
Nimas : enggeh mas terimakasih doanya, semoga mas juga segera dapat sosok perempuan yang jauh lebih baik dariku.
Mas Radhit : enggeh nduk ammiin, wassalamungalaikum.wr.wb (sambil melayangkan tangannya ke atas dan bergegas pergi meninggalkan rumahku, menerjang hujan yang sangat deras bagaikan tangisan seseorang yang kehilangan separuh hidupnya untuk selama-lamanyaa).
”Wangalaikumsalam.wr.wb mas, terimakasih mas telah menjadi matahariku dan untuk terakhir kalinya engkau masih menjadi matahariku dan penenangku kala aku hampir menyerah dengan semua keaadaan yang menimpaku ini. Terimakasih juga sedari dulu selalu pengertian denganku, meskipun takdir berkata lain, namamu selalu ada dalam hatiku dan selalu menjadi inspirasiku untuk menjalani kehidupan selanjutnya”.
Tulungagung, 25 Juni 2020

Posting Komentar
0 Komentar