Makalah Organisasi Kurikulum
BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi merupakan asas yang sangat penting bagi proses
pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan pembelajaran, karena
hal itu untuk menentukan isi bahan pembelajaran, menentukan cara penyampaian
bahan pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman yang akan disiapkan untuk
peserta didik dan menentukan peran pendidik dalam hubungan atau implementasi
kurikulum.
Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran
disusun dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting
sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan progam
pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan
pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid. Tujuan-tujuan
yang dicapai dengan kurikulum berdasarkan mata pelajaran yang terpisah-pisah.
Demikian pula berlainan cara menyampaikannya dan isi pelajarannya.
Tujuan-tujuan pendidikan yang mengenai seluruh pribadi anak dihalang-halangi
oleh kurikulum yang disusun untuk memupuk sehi intelektual.[1]
Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum
adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum
berkaitan dengan pengaturan bahan pelajaran, yang selanjutnya memiliki dampak
terhadap masalah administrative pelaksanaan proses pemeblajaran, team
teaching misalnya.
Selain itu organisasi kurikulum sangat terkait dengan pengaturan
bahan pelajaran yang ada dalam kurikulum, sedangkan yang menjadi sumber bahan
pelajaran dalam kurikulum adalah nilai budaya, nilai sosial, aspek siswa dan
masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian yang tidak kalah
penting organisasi kurikulum menentukan peranan guru dan siswa dalam pembinaan
kurikulum. Dengan demikian apabila masing-masing guru dan siswa dapat melaksanakan
kurikulum secara efektif dan efisien maka tujuan pendidikan akan tercapai
secara maksimal.[2]
1.
Bagaimana
organisasi kurikulum dalam pengembangan kurikulum?
2.
Bagaimana
prosedur pengorganisasian kurikulum dalam pengembangan kurikulum?
3.
Bagaimana
jenis-jenis organisasi kurikulum dalam pengembangan kurikulum?
4.
Bagaimana
hubungan antar bentuk kurikulum dalam pengembangan kurikulum?
1.
Untuk
memaparkan organisasi kurikulum.
2.
Untuk
memaparkan prosedur pengorganisasian kurikulum.
3.
Untuk
memaparkan jenis-jenis organisasi kurikulum.
4.
Untuk
memaparkan hubungan antar bentuk kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
Organisasi kurikulum adalah struktur
progam yang berupa kerangka progam-progam pengajaran yang akan disampaikan
kepada siswa. Menurut Nasution yang
dikutip oleh Rahnang memberikan pengertian bahwa organisasi kurikulum adalah
pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun yang bertalian erat dengan tujuan
progam pendidikan yang hendak dicapai.[3]
Secara umum beberapa pendapat di
atas menyatakan bahwa organisasi kurikulum bertujuan untuk mempermudahkan siswa
dalam belajar, karena dalam organisasi kurikulum mencoba untuk mewujudkan apa
yang diketahui tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan,
perkembangan siswa dan kebutuhan masyarakat.
Penyusunan kurikulum harus
memperhatikan tingkat pendidikan dan jenis pendidikan yang terdapat pada
kurikulum. Tingkat pendidikan dibedakan menjadi pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi. Setiap jenis dan jenjang pendidikan tersebut
mempunyai tujuan berbeda satu sama lain akan tetapi harus mencerminkan adanya
kesinambungan dari ketiganya.[4]
Berdasarkan dengan jenis sekolah secara umum berorientasi pada pendidikan
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Pertama (SMA) ada pula yang
berorientasi pada sekolah kejuruan.
Komoponen-komponen struktur
kurikulum diperlukan untuk menuangkan keputusan-keputusan yang diambil sebagai
pegangan bagi pendidik dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Komponen struktur
kurikulum terdiri dari:
1.
Tujuan
Kurikulum adalah alat untuk mencapai
tujuan pendidikan, maka tujuan kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum
pendidikan dalam sistem pendidikan nasional. Makna tujuan umum penididkan pada
hakikatnya membentuk manusia Indonesia yang bisa mandiri dalam konteks
kehidupan pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta
berkehidupan sebagai makhluk Tuhan.[5]
2.
Materi
Mata pelajaran sebagai bagian dari kebudayaan manusia
merupakan pengetahuan bagi manusia untuk memperoleh kehidupan. Bagian
terpenting dalam struktur kurikulum adalah memilih mata pelajaran agar
memperoleh isi kurikulum yang sesuai kemampuan anak, tuntutan masyarakat dan
kepentingan mata pelajaran. Tidak semua mata pelajaran dan kebudayaan manusia
harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sekalipun penting bagi kehidupan.
Ada beberapa kriteria yang bisa digunakan dalam memilih mata pelajaran sebagai
isi kurikulum diantaranya adalah pentingnya mata pelajaran dalam kerangka
pengetahuan keilmuan, mata pelajaran harus tahan uji dan mata pelajaran
memiliki kegunaan bagi anak didik dan masyarakat pada umumnya.
3.
Proses
Proses belajar mengajar
yaitu rangkaian interaksi antara pendidik dan peserta didik memiliki hubungan
timbal balik untuk mencapai tujuan tertentu. Proses belajar mengajar meliputi
kegiatan yang dilakukan pendidikan mulai dari perancanaan, pelaksanaan kegiatan
sampai evaluasi dan progam tindak lanjur untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan kemampuan pendidik atau guru untuk
mengelola pembelajaran. Meneglola proses belajar mengajar adalah kecakapan para
guru dalam menciptakan suasana edukatif antara pendidik dan peserta didik yang
mencakup segi kognitif, efektif dan psikomotor.
4.
Evaluasi
Evaluasi dapat menentukan
tercapai tindaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha dan
tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar yang bertujuan untuk melihat
kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang
telah dipelajari tujuan yang ditetapkan.
Pencapaian misi lembaga pendidikan sangat
didukung oleh pola dan model kurikulum yang diterapkan oleh satuan lembaga
tersebut. Maka dari itu, penetapan dan penggunaan kurikulum perlu dianalisis
serta ditinjau dari berbagai aspek sehingga kurikulum tersebut tidak bertolak
belakang dengan karakter lembaga pendidikan.[6]
Organisasi kurikulum, pola atau bentuk
bahan pelajaran disusun dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu
dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan berhubungan erat dengan
tujuan progam pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut
menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara penyampaiannya kepada
murid-murid.
Tujuan-tujuan yang dicapai dengan proyek
atau unit berlainan dengan apa yang dicapai dengan kurikulum berdasarkan mata
pelajaran yang berpisah-pisah. Demikian pula berlainan cara penyampaiannya dan
isi pelajarannya. Tujuan-tujuan pendidikan mengenai seluruh pribadi anak
dihalang-halangi oleh kurikulum yang disusun untuk memupuk segi intelektual.
Tentu saja subject-curriculum dapat juga membentuk segi-segi lain dari
pribadi anak, akan tetapi organisasi kurikulum tertentu sangat mempengaruhi
bentuk-bentuk pengalaman apakah yang disajikan kepada anak-anak berdasarkan
proyek atau unit dengan sendirinya misalnya menyuruh anak-anak menyelidiki
sendiri, mengadakan karya wisata, mengadakan wawancara (interview),
menggunakan berbagai sumber, dan sebagainnya dan tidak terikat pada satu buku
pelajaran tertentu. Selain dari itu organisasi kurikulum menentukan juga
peranan guru dalam pembinaan kurikulum.
Organisasi kurikulum merupakan asas yang
sangat penting bagi proses pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan
tujuan pembelajaran, sebab menentukan isi bahan pembalajaran, menentukan cara
penyampaian bahan pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman yang akan di
sajikan kepada terdidik dan menentukan peranan pendidik dan terdidik dalam
inplementasi kurikulum.[7] Isi
kurikulum berkenaan dengan pengetahuan ilmiah dan pengalaman belajar yang harus
diberikan kepada siswa untuk dapat mencapai tujuan pendidikan. Dalam menentukan
isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan ilmiah maupun pengalaman
belajar disesuaikan dengan tingkat dan jenajang pendidikan, perkemabangan yang
terjadi dalam masyarakat menyangkut tuntutan dan kebutuhan masyarakat,
perkembangan ilmu penegtahuan dan teknologi.[8]
Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam
organisasi kurikulum, antara lain:
a.
Konsep
Definisi secra
singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep merupakan definisi dari apa
yang perlu diamati, konsep menentukan antara variable-variable mana kita ingin
menentukan adanya hubungan empiris,. Hampir setiap bentuk organisasi kurikulum
dibangun berdasarkan konsep, seperti peserta didik, masyarakat, kuantitas,
ruangan dan evaluasi.
b.
Generalisasi
Generalisasi adalah kesimpulan-kesimpulan
yang merupakan kristalisasi dari suatu analisis. Kita harus membedakan antara
kesimpulan-kesimpulan dengan rangkuman. Namyak orang yang keliru dalam manarik
kesimpulan karena apa yang dilakukannya adalah objek berperilaku secara
manusiawi.
c.
Keterampilan
Keterampilan adalah kemampuan dalam
merencanakan organisasi kurikulum dan diguankan sebagai dasar untuk menyusun
progam yang berkesinambungan. Misalnya, organisasi pengalaman belajar
berhubungan dengan keterampilan komprehensif, keterampilan dasar untuk
mengerjakan matematika, dan keterampilan menginterprestasikan data.
d.
Nilai-nilai
Norma atau kepercayaan yang diagungkan,
sesuatu yang bersifat absolut untuk mengendalikan perilaku. Misalnya,
menghargai diri sendiri, menghargai kemulyaan dan kedudukan setiap orang tanpa
memperhatikan ras, agama, kebangsaan, dan status sosial-ekonomi.[9]
Mengorganisasikan
unsur-unsur memilih tujuan-tujuan yang jelas dan objektif serta sesuai dengan
minat peserta didik. Jika tujuan kurikulum berkaitan dengan maslah teknis dan
kejuruan, maka keterampilan adalah unsur yang tepat untuk dipergunakan. Jika
tujuan kurikulum berkaitan dengan domain moral dan etika sebagai fungsi yang integrative,
maka nilai-nilai merupakan unsur organisasi yang tepat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa oraganisasi
kurikulum adalah pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa
dalam kegiatan pembelajaran yang ditentukan oleh sekolah.
B.
Prosedur Pengorganisasian Kurikulum
Ada beberapa faktor dalam organisasi kurikulum
yang perlu diperhatikan, yakni ruang lingkup (scope), urutan, (sequence)
dan penempatan bahan (grade placement).
1.
Ruang
lingkup bahan, adalah keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang akan
diberikan dari pengalaman yang akan diberikan dari suatu bidang studi atau daru
sesuatu pokok bahasan tertentu. Selain itu sesuatu pokok bahasan dan atau sub
bahasan juga mengandung ruang lingkupnya tersendiri. Ruang lingkup bahan itu
merupakan perincian dari pada pokok atau topik tersebut. Kejelasan tentang
perincian bahan tersebut dapat kita peroleh dari dalam buku paket atau sumber
pokok dari pelajaran yang telah ditentukan.
2.
Urutan
bahan, adalah penyusanan bahan pelajaran menurut aturan tertentu secara
berurutan, urutan bahannya disusun sedemikian rupa agar menunjukkan sistematika
dan memudahkan penyampaian maupun penangkapan oleh para siswa.
3.
Penempatan
bahan, adalah penempatan beberapa bahan pelajaran untuk kelas tertentu.
Penempatan bahan pelajaran tersebut dihubungkan dengan ruang lingkup bahan dan
diserasikan dengan urutan bahan pelajaran.[10]
Sedangkan menurut Teyler yang dikutip oleh Rahnang merumuskan
kriteria organisasi kurikulum yang efektif menjadi tiga, di antaranya adalah:
1.
Berkesinambungan
(continuity)
2.
Berurutan
(sequence)
3.
Keterpaduan
(integrated)[11]
Ketiga kriteria menurut Teyler merupakan petunjuk dalam membuat
organisasi kurikulum. Hal ini tidak terikat pada suatu bentuk organisasi
kurikulum apapun yang digunakan. Pada dasarnya semua organisasi kurikulum
mempunyai bahan yang akan dijadikan isi.
Untuk memperoleh organisasi kurikulum yang efektif perlulah
diperhatikan, bahwa kriteria tersebut dapat diterapkan dalam mengorganisasikan
kegiatan mempelajari bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu setiap pengembang
kurikulum sepatutnya dapat melihat berbagai keunggulan maupun kelemahan yang
dimiliki oleh masing-masing bentuk organisasi, agar dapat dicarikan bila suatu
bentuk tertentu terpilih.
Menurut Hamalik yang dikutip oleh Zaini[12] dalam
pengorganisasian kurikulum terdapat beberapa prosedur yang meliputi:
1.
Prosedur
buku pelajaran
Pemilihan isi kurikulum didasarkan
atas materi yang terkandung di dalam buku pelajaran atau sejumlah buku
pelajaran yang telah dipilih oleh sebuah panitia tertentu.
2.
Prosedur
survei pendapat
Pemilihan dan
pengorganisasian isi jurikulum dilakukan dengan jalan mengadakan survei atau
penelitian terhadap pendpat berbagai pihak.
3.
Prosedur
studi kesalahan
Prosedur ini dilaksanakan
dengan jalan mengadakan analisis terhadap kesalahan, kekeliruan, kelemahan tau
kebaikan atas hasil-hasil atau pengalaman kurikuler.
4.
Prosedur
mempelajari kurikulum lainnya
Prosedur ini dapat
disamakan dengan metode tambal sulam dengan mempelajari metode sekolah lain,
guru atau sekolah dapat menetapkan dan menentukan isi kurikulum untuk
sekolahnya sesuai dengan tujuan.
5.
Analisis
kegiatan orang dewasa
Melalui
prosedur ini terlebih dahulu diadakan studi terhadap kegiatan-kegiatan dalam
kehidupan untuk menemukan sejumlah kegiatan yang diperkirakan berguna untuk
dipelajari oleh para siswa di sekolah. Kegiatan yang dianalisis adalah yang
berkenaan dengan pekerjaan atau jabatan.
6.
Prosedur
fungsi sosial
Prosedur
ini bertalian dengan prosedur analisis kegiatan masyarakat. Masyarakat
melakukan banyak fungsi sosial dalam kehidupannya yang bermacam ragam dan
bentuknya, dan berada dalam daerah kehidupan tertentu, fungsi yang telah
ditentukan diklasikfikasikan menjadi sejumlah area of living.
7.
Prosedur
minat kebutuhan
Menurut
prosedur ini, minat kebutuhan juga melibatkan persistent problem, tetapi
scope dan squace-nya didasarkan atas siswa dan berkenaan dengan
fungsi-fungsi personal dan sosial.
C.
Jenis-jenis Organisasi Kurikulum
Kurikulum memiliki bermacam-macam
bentuk dan jenis organisasinya. Bentuk yang paling dikenal dan sangat meluas
yang telah diakui para ahli, baik di Indonesia, di Mesir, di Amerika maupun
seluruh dunia yaitu saparated subject curriculum yang berarti kurikulum
terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang secara umum diajarkan terpisah-pisah.
Kurikulum ini mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Sedangkan kurikulum
yang didasarkan atas analisis masyarakat dan kebutuhannya serta analisis anak
dengan minat serta kebutuhannya, maka kurikulum yang serasi adalah bercorak integrated
curriculum.[13]
Berbagai bentuk kurikulum itu jarang
terdapat dalam kenyataan dalam bentuknya yang murni. Namun berbagai bentuk
kurikulum itu ada pengaruhnya terhadap pemikiran tentang kurikulum dan sering
pula dalam pelaksanaannya. Kurikulum dala, implementasinya dapat dimodifikasi,
diperkaya dan disesuaikan dengan pemikiran-pemikiran baru tentang kurikulum.
Agar dapat mengembangkan kurikulum
secara baik, pengembangan kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model
pengembangan kurikulum. Model kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur
dalam rangka mendesain (designing), menerapkan(implemtation), dan
mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum.[14] Model
kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan
pembelajaran yang memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam
pendidikan.
Pengembangan kurikulum dalam praktek
sering cenderung hanya menekankan pada pemenuhan mata pelajaran. Artinya, isi
materi yang harus dipelajari peserta didik hanya berpusat pada disiplin ilmu
yang terstruktur, sistematis, dan logis, sehingga mengabaikan pengetahuan dan
kemampuan aktual yang dibutuhkan sejalan perkembangan masyarakat.
Model pengembangan kurikulum atau
model kurikulum yaitu langkah atau prosedur sistematis dalam proses penyusunan
suatu kurikulum. Dengan memahami esensi model pengembangan kurikulum diharapkan
akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga
harapan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif dengan berbagai
kepentingan, teori dan praktek, bisa terwujudkan.
Penyusunan kurikulum, sangatlah
tergantung pada asas organisasian, yaitu bentuk penyajian bahan pelajaran atau
organisasi kurikulum. Berikut ini adalah tiga pola organisasi atau jenis-jenis
kurikulum[15]:
1.
Separated- Subject Curriculum (al-Manhaj
al-Dirasiyah)
Separated- Subject
Curriculum yaitu kurikulum yang terdiri dari
atas mata pelajaran yang terpisah-pisah, terlepas dan tidak mempunyai kaitan
sama sekali sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya.
Bahan pembelajarannya disusun secara logis, sistematis dan sederhana dengan
batas-batas nya yang ketat, oleh karena itu akan ada batas-batas bahan
pembelajaran untuk tiap-tiap mata pelajaran dan tiap-tiap mata pelajaran
disajikan sendiri.[16]
Demikian pula kurikulum akan membentuk intelektual saja mempersempit tujuan
pembelajaran, ditentukan oleh orang dewasa dan para ahli saja serta
mengharuskan ada buku pegangan yang seragam yang dibuat oleh para ahli
tersebut.
Tyler dan Alexander dalam abdullah iddi
yang dikutip oleh Nurjanah[17]
menyebutkan bahwa jenis kurikulum ini digunakan dengan school subject.
Hingga saat ini kurikulum jenis ini masih banyak didapatkan di berbagai lembaga
pendidikan. Kurikulum ini terdiri dari mata-mata pelajaran yang tujuan
pelajarannya adalah anak didik harus menguasai bahan dari tiap-tiap mata
pelajaran yang ditentukan secara logis, sistematis, dan mendalam.
Kurikulum mata pelajaran dapat menetapkan
syarat-syarat minimum yang harus dikuasai anak sehingga anak didik bisa naik
kelas. Biasanya bahan pelajaran dan textbook merupakan alat dan sumber
utama pelajaran. Kurikulum mata pelajaran atau Subject Curriculum terdiri
dari mata pelajaran (subject) yang terpisah-pisah, dan subject itu
merupakan himpunan dan pengetahuan yang diorganisasikan secara logis dan
sistematis oleh para ahli kurikulum.
Di perguruan Tinggi Agama Islam misalnya
pada fakultas Tarbiyah Progam Studi Pendiidkan Bahasa Arab ada mata kuliah Nahwu,
Sharaf, Insya’, Khitabah, Muhadatsah, dan Muthala’ah,
di madrasah-madrasah ada mata pelajaran al-Qur’an al-Hadist, Akidah
Akhlaq, Srjarah Kebudayaan Islam dan Fiqh. Mata kuliah atau mata
peljaran tersebut disajikan secara terpisah-pisah dan berdiri sendiri,
seakan-akan ridak ada keterkaitan.
Pengorganisasian separate- subject
curriculum benar-benar disusun dengan berorientasi pada mata pelajaran (subject
centered). Pengorganisasian kurikulum ini dilatarbelakangi oleh pandangan
ilmu jiwa asosiasi, yang mengharapkan terbangunnya kepribadian yang utuh
berdasarkan potongan-potongan pengetahuan. Kurikulum bentuk terpisah ini sangat
menekankan pada pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan
kepribadian peserta didik secara keseluruhan.
Hal yang penting dalam pengorganisasian
kurikulum ialah pengurutan (sequence) bahan pelajaran. Pengurutan harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga benar-benar terjaga kesinambungan bahan.
Harus dihindari keterulangan bahan pelajaran yang sudah pernah dipelajari siswa
di kelas sebelumnya, dan keterlewatan bahan pelajaran.
Penyusunan kurikulum jenis ini dilakukan
oleh tim. Tim ini terdiri atas para tokoh dan ahli pendidikan serta para ahli
dalam disipli keilmuan tertentu. Mereka inilah yang menetapkan apakah yang
diperlukan peserta didik kelak dalam kehidupannya di masyarakat. Jadi, dalam
kurikulum ini memang sudah ditetapkan pengalaman-pengalaman apa saja yang akan
ditempuh peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, biasanya bahan pelajaran
dan bahan buku pelajarannya, telah disiapkan sebelumnya.
Beradasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa akibat pengorganisasian kurikulum seperti itu. Pertama,
karena dibangun oleh tim khusus, apalagi tingkat nasional, maka bisa
dibayangkan adanya keseragaman yang terjadi. Untuk negara Indonesia yang begitu
luas, dari Sabang hingga Merauke, ini sangat berebda kondisinya. Kedua,
keberadaan buku pelajaran (paket) kerap menimbulkan salah penyikapan bahwa
kurikulum itu buku pelajaran. Pada kasus ini terjadilah penyem-pitan subtansi.
Keadaan ini biasanya menimpa guru yang tidak profesional. Apa pun yang terjadi,
yang diajarkan dan disajikan kepada para paserta didik hanya buku paket itu
saja. Sebaliknya, bagi guru yang profesional, ia tidak akan mau diperhamba oleh
satu buku (paket) saja. Dia tentu akan menambah referensi lain untuk
memperkaya, memperdalam dan menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan selaras
dengan kebutuhan peserta didik.
Kelebihan-
kelebihan separated- subject curriculum[18]:
a.
Bahan pelajaran tersajikan secara logis dan sistematis
kurikulum ini, telah
disiapkan dan disusun secara sitemtis, logis, dan berkesinmabungan. Penyusunan
bahan telah menggunakan urutan yang tepat, dari yang mudah menuju sukar, dari
yang sederhana menuju yang kompleks. Ilmu yang disampaikan kepada anak sudah
dalam urutan logis sebgaimana yang telah ditata dan dipikirkan oleh para ahli. Dengan
demikian, penggunaan kurikulum ini akan memudahkan guru dalam menyajikan
materi, dan dipandang lebih efektif dan efisien, karena pihak sekolah dan guru
tinggal menyampaikan saja.
b.
Organisasi kurikulum sederhana serta mudah direncanakan dan
dilaksanakan
mata pelajaran disikapi sebagai suatu satuan
otonom, maka perhatian dan penyusunan bahan hanya sevatas mata pelajaran itu
sendiri. Kesederhanaan inilah yang menjadikan kurikulum mudah disusun dan
dilaksankan oleh para pengembang mapun guru. Kurikulum ini juga mudah untuk
direorganisasi, ditambah, atau dikurangi. Penentuan jumlah, cakupan, dan urutan
mata pelajaran tidak seberapa menumbulkan banyak amsalah.
Berdasarkan pelaksanaan kurikulum, guru
umumnya dapat berpegang pada buku pelajaran yang telah ditentukan, guru umumnya
dapat berpegang pada buku pelajaran yang telah ditentukan, dan mengajarkan bab
demi bab. Apa yang diajarkan sudah ditentukan lebih dahulu, sehingga guru dapat
menyesuaikan jumlah waktu yang ditentukan dengan bahan pelajaran yang tersedia.
c.
Kurikulum mudah dinilai
Kurikulum ini utamanya
bertujuan menyampaikan sejumlah pengetahuan, pengertian, dan
kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah dinilai dengan tes. Bahan pelajaran pun
bisa ditentukan dengan menetapkan buku-buku pelajaran yang harus digunakan oleh
suatu daerah, atau bahkan satu negara.[19]
d.
Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum
Umumnya pendidikan guru
mempersiapkan calon atau guru Itingkat sekolah lanjutan) untuk mengajarkan mata
pelajaran tertentu. Dengan kurikulum ini, apa yang akan diajarkan guru sejalan
betul dengan pengetahuan dan penaglkaman yang diperolehnya saat kuliah.
e.
Kurikulum ini juga dipakai diperguruan tinggi
Manajemen kurikulum di
perguruan tinggi pada umumnya menerapkan separated subject curriculum.
Mahasiswa mempelajari bidang keilmuan secara terkonsentrasi. Karena saat di
sekolah menengah mereka juga diajar dengan model kurikulum yang sama, maka para
siswa lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan tinggi telah
terbiasa dengan belajar dalam situasi kurikulum tersebut.
f. Kurikulum ini mudah
diubah
Perubahan kurikulum
yang terjadi umumnya didasarkan pada organisasi mata pelajaran. Penyesuaian
kurikulum dengan kebutuhan zaman biasanya dilakukan dengan menambah mata
pelajaran, bisa juga meluaskan atau menyempitkan materi pelajaran. Hal seperti
ini tentu akan mudah dilaksanakan pada kurikulum yang diorganisasikan dengan
cara separated subject curriculum.[20]
Kelemahan-kelemahan
separate subject curriculum.[21]
a.
Kurikulum
ini memberikan mata pelajaran yang lepas-lepas, yang tidak berhubungan satu
dengan yang lainnya.
b.
Kurikulum
ini tidak memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi anak-anak dalam
kehidupannya sehari-hari di masyarakat.
c.
Kurikulum
ini kebanyakan hanya menyampaikan pengalaman umat manusia pada masa yang
lampau, sehingga sedikit sekali materi yang terkait dengan masalah-masalah
aktual kekinian.
d.
Kurikulum
ini kurang mengembangkan kemampuan berfikir.
e.
Kurikulum
ini cenderung menjadi statis dan ketinggalan jaman.
2.
Coorelated Curriculum (al-Manhaj al- tarabut)
Coorelated Curriculum adalah kurikulum yang mata pelajarannya harus dihubungkan dan
disusun sedemikian rupa sehingga yang satu dapat memperkuat dan melengkapi yang
lain. Jadi d sini mata pelajaran itu dihubungkan antara satu dengan yang
lainnya sehingga tidak berdiri sendiri.[22] Untuk memadukan
antara pelajaran yang satu dengan yang lainnya, ditempuh dengan cara-cara
korelasi antara lain:
a.
Korelasi
okasional atau incidental, yaitu korelasi yang diadakan sewaktu-waktu bila ada
hubungannya.
b.
Korelasi
etis, yaitu yang bertujuan mendidik budi pakerti sebagai pusat pelajaran
diambil agama atau budi pakerti.
c.
Korelasi
sitematis, yaitu yang mana korelasi ini disusun oleh guru sendiri.
d.
Korelasi
informal, yang mana kurikulum ini dapat berjalan dengan cara anatara beberapa
guru saling bekerja sama, saling meminta untuk mengkorelasikan antara mata
pelajaran yang dipegang guru A dengan mata pelajaran yang dipegang oleh guru B.
e.
Korelasi
formal, yaitu kurikulum ini sebenarnya telah direncanakan oleh guru atau tim
secara bersama-sama.
f.
Korelasi
meluas (broad field), dimana korelasi ini sbenarnya telah direncanakan oleh
guru atau tim secara bersama-sama.[23]
Organisasi kurikulum yang disusun dalam bentuk correlated
ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
a.
Adanya
korelasi antara berbagai mata pelajaran yang dapat menopang kebulatan
pengalaman dan pengetahuan peserta didik berhubung mereka menerimanya tidak
secara terpisah-pisah.
b.
Adanya
korelasi antara berbagai mata pelajaran memungkinkan peserta didik untuk
menerapkan pengetahuan dan pengalamannya secara fungsional. Hal ini disebabkan
mereka dapat memanfaatkan pengetahuan dari berbagai mata pelajaran untuk
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya[24].
Adapun kurikulum correlated curriculum memiliki
kelemahan-kelemahan antara lain:
a.
Bentuk
kurikulum ini pada hakikatnya masih bersifat subject centered dan belum
memiliki bahan yang langsung dengan minat dan kebutuhan peserta didik serta
masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
b.
Penggabungan
beberapa mata pelajaran menajdi satu kesatuan dengan lingkup yang lebih luas
tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam. Pembicaraan tentang
berbagai pokok masalah bagaimanapun juga tetap tidak dipadu, karena pada
dasarnya masing-masing merupakan subjek yang berbeda. Rasanya hampir tidak
mungkin menggunakan waktu yang hanya sedikit itu untuk memberikan berbagai
pokok masalah yang sebenarnya berasal dari beberapa mata pelajaran yang
berbeda.[25]
3.
Broad Field curriculum (al-Manhaj al-Majalat al-Wasi’ah)
Broad Field curriculum adalah bentuk kurikulum yang menhilangkan atau menghapus batas
masing-masing mata pelajaran, kemudian menyatukan atau menggabungkan mata
pelajaran yang berhubungan erat itu.
Bentuk kurikulum ini dapat
digambarkan sebagai berikut[26]:
Di dalam kurikulum sekolah sekarang dikenal
ada enam broad field curriculum[27], yaitu:
a.
Pendidikan
Agama Islam (Al-Qur’an dan al-Hadist, Akidah Akhlak,
Sejarah Kebudayaan Islam dan Fiqh).
b.
Ilmu
pengetahuan Sosial (Sejarah, Geografi, Ekonomi).
c.
Bahasa
(Tata Bahasa, Mengarang, Menyimak, Kesusasteraan, dan Pengetahuan Bahasa)
d.
Ilmu
Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia).
e.
Matematika
(Berhitung, aljabar, Geometri, aritmatika).
f.
Kesenian
(Seni Tari, Seni Lukis, Seni Suara, Seni Pahat, dan Seni Drama).
Di perguruan Tinggi Agama Islam misalnya pada semua fakultas ada
mata kuliah Bahasa Arab yang sebenarnya adalah fungsi dari Nahwu, Sharaf,
Insya’, Khitabah, Balaghah, muhadatsah, dan Muthala’ah.
a.
Bebrapa
kelebihan broad field curriculum antara lain:
b.
Menunjukkan
adanya integrasi pengetahuan kepada siswa.
c.
Dapat
menambah internet dan minat siswa terhadap adanya hubungan antara berbagai
bidang studi.
d.
Pengetahuan
dan pemahaman siswa akan lebih luas, karena mendapatkan penjelasan dari
berbagai keilmuan.
e.
Adanya
kemungkinan untuk menggunakan ilmu pengetahuan lebih fungsional dalam
memecahkan suatu masalah kehidupan.
f.
Lebih
mengutamakan pola pemahaman atau pengertian dan prinsip-prinsip dari pada
pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta.
Beberapa kelemahan broad field curriculum
antara lain:
a.
Bahan
yang disajikan tidak berhubungan secara langsung dengan kebutuhan, minat dan
masalah aktual yang dihadapi oleh siswa.
b.
Pengetahuan
yang diberikan dangkal dan tidak mendalam serta kurang sistematis pada berbagai
mata pelajaran. Pengetahuan diperoleh hanya sebataspengantar dalam berbagai
keilmuan, tetapi tentunya tidak mencukupi untuk masuki perguruan tinggi.
c.
Urutan
penyusunan dan penyajian bahan tidak secara logis dan sitematis.
d.
Kebanyakan
diantara guru kurang menguasai berbagai disiplin ilmu (interdisipliner),
sehingga dapat mengaburkan pemahaman siswa.[28]
4.
Integrated Curriculum (al-Manhaj al-Mutakamilah)
Integrated Curriculum meniadakan
batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam
bentuk unit atau keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pelajaran diharapkan mampu
membentuk murid yang integral, selaras dengan kehidupan sekitarnya, apa yang
diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah.[29]
Apa yang disajikan di sekolah, disesuaikan dengan kehidupan anak di
luar sekolah. Pelajaran di sekolah membantu siswa dalam menghadapi berbagai
persoalan di luar sekolah, biasanya bentuk kurikulum semacam ini dilaksanakan
melalui pelajaran init. Dimana satu mempunyai tujuan yang mengandung makna bagi
siswa yang yang dituangkan dalam bentuk masalah.
Ada kecenderungan selama ini guru mengemas pengalaman belajar siswa
terkotak-kotak dengan tegas anatara satu bidang studi dengan bidang yang
lainnya, pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran secara tegas
hanya akan membuat kesulitan belajar bagi siswa, karena pemisahan seperti itu
hanya akan memberikan pengalaman belajar yang bersifat artifisial. Sementara
itu, disekolah dasar khususnya di kelas-kelas rendah para siswa lebih
menghayati pengalaman belajarnya secara totalitas, siswa mengalami kesulitan
dengan adanya pemisahan pengalaman belajar seperti itu.[30]
Contoh kurikulum yang terintegrasi adalah sebagai berikut:
Beberapa manfaat kurikulum yang integrated ini dapat disebut
sebagai berikut:
a.
Segala
sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta
yang terlepas satu sama lain.
b.
Kurikulum
ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan
kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.
c.
Kurikulum
ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
d.
Aktifitas
anak-anak meningkat karena diransang untuk berpikir sendiri dan bekerja sendiri
atau bekerjasama dengan kelompok.
e.
Kurikulum
ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.[31]
Melalui Integrated Curriculum penyajian mata pelajaran
disajikan dengan menyeluruh dalam bentuk unit atau keseluruhan. Model kurikulum
ini menghilangkan batas-batas antara mata pelajaran sehingga tidak dibenarkan
mata pelajaran berdiri sendiri. Dengan menyeluruh dan kebulatan diharapkan bisa
membentuk anak-peserta didik yang integrated yaitu siswa-siswa yang
selaras kehidupannya dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Siswa melihat dirinya sebagai pusat lingkungan yang merupakan
keseluruhan yang belum jelas unsur-unsurnya dengan pemaknaan holistik yang
berangkat dari yang bersifat konkrit. Pemilihan model atao metode pembelajaran
yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi merupakan kemampuan dan
keterampilan dasar yang harus dimiliki guru. Sukamadinata menjelaskan bahwa
Kurikulum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan dan
pengajaran. Oleh karena itu guru sebagai pendidik harus mempunyai potensi untuk
memilih model pembelajaran yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik
siswa dan tuntutan kurikulum.[32]
Kelemahan-kelemahan integrated
curriculum adalah sebagai berikut:
a.
Guru-guru
kita belum disiapkan untuk melaksanakan kurikulum ini.
b.
Kurikulum
ini tidak punya organisasi secara sistematis.
c.
Kurikulum
ini memeberatkan tugas guru.
d.
Kurikulum
ini tidak memungkinkan ujian umum sebab tidak ada uniformanitas di
sekolah-sekolah satu sama lain.
e.
Anak-anak
diragukan untuk bisa diajak menentukan kurikulum.
f.
Pada
umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum
ini[33].
Menurut Dakir[34] Sekolah-sekolah
yang “progesif” berangsur-angsur meninggalkan kurikulum yang subject-centered,
karena dianggap tidak menghasilkan pribadi yang harmonis. Karena itu pelajaran
disusun sebagai keseluruhan luas yang disebut “broad unit”. Unit sendiri
mempunyai beberapa ciri-ciri, yakni sebagai berikut:
a.
Unit
merupakan suatu keseluruhan yang bulat.
b.
Unit
menghapus batas-batas pelajaran.
c.
Unit
didasarkan pada pendapat-pendapat modern mengenai cara belajar didasarkan pada
pusat minat dari anak).
d.
Unit
memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan mata pelajaran yang
biasa dari kurikulum tradisional.
e.
Unit
bersifat “life cintered” (berhubungan dengan kehidupan).
f.
Unit
memanfaatkan dengan wajar dari dalam diri anak yang belajar.
g.
Dalam
unit anak dihadapkan kepada situasi-situasi yang mengandung problem.
h.
Unit
dengan sengaja memajukan perkembangan sosial kepada anak-anak.
i.
Unit
direncanakan bersama oleh guru dan murid.[35]
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu Kebaikan
dari bentuk unit adalah menyeluruh, misalnya permasalahan dan problem yang
terkandung dalam suatu pokok masalah akan diteliti oleh murid secara menyeluruh
dengan mengbungkan dengan berbagai disiplin ilmu untuk menemukan tujuan unit
tersebut.
D.
Hubungan antar Bentuk Kurikulum
Nasution yang dikutip oleh Zaini,
memandang bahwa macam-macam bentuk kurikulum itu tidak perlu dipandang
bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Justru diantara bentuk-bentuk
itu dapat saling membantu dan melengkapi. Tidak ada bentuk yang paling mutlak
benar atau paling baik, semua bentuk kurikulum itu memiliki kelebihan dan
kelemahan.[36]
Sehingga perlu mengadopsi semua bentuk itu pada saat-saat tertentu atau pada
mata pelajaran tertentu yang relevan dengan pokok bahasan.
Untuk permulaan, tidak diharapkan seluruh
kurikulum diberikan dalam bentuk unit. Sebaiknya kita masih mengajarkan subjects
dan disamping itu memberikan dua atau tiga kali seminggu pelajaran dalam bentuk
unit. Dalam pada itutentu sangat menggantungkan apabila unyuk mata pelajaran biasa
diambil bahan yang berhubungan dengan unit itu. Pengajaran unit dapat dan perlu
pula dibantu oleh subjects. Apabila dalam unit itu timbul soal-soal yang
bersifat matematis, sudah sewajarnya mata pelajaran ilmu pasti digunakan untuk
memecahkan problem. Demikianlah setiap mata pelajaran dihapuskan. Hal ini
malahan akan merugikan.[37]
Sparated subjects dalam bentuk
pelajaran akan memperoleh manfaat dari bentuk unit. Karena dalam pembelajaran
unit, para siswa akan mendapatkan banyak hal yang berkaitan dengan berbagai mata
pelajaran dalam situasi yang bermakna dan fungsional. Mereka lebih terlatih
untuk menyampaikan pendapat, fasih berbicara, lebih terampil menyusun laporan,
lebih mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya secara fungsional dalam
kehidupan sehari-hari. Jadi sesungguhnya pembelajaran dalam bentuk unit sama
sekali tidak merugikan bahkan sangat membantu pembelajaran dalam bentuk sparated
subjects.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik
kesimpulan, dalam broad field curriculum, apapun kebaikan yang di dalam sparated
subject curriculum juga terjadi pada broad field curriculum, yakni
paduan antara beberapa mata pelajaran yang serumpun seperti PAI, IPA, IPS,
Bahasa, Matematika, dan kesenian. Ketiga bentuk kurikulum tersebut bisa saling
membantu dan saling melengkapi.
BAB III
PENUTUP
Organisasi
kurikulum merupakan struktur progam kurikulm yang berupa kerangka umum
pendidikan atau pembelajaran yang hendak disampaikan kepada peserta didik guna
tercapainya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang diterapkan. Proses
pengembangan organisasi kurikulum berperan sebagai suatu metode untuk
menentukan seleksi dan pengorganisasian pengalaman-pengalaman belajar yang
diselenggarakan oleh sekolah, organisasi kurikulum menunjukkan peranan guru,
peserta didik dan lain-lain yang terlibat aktif dalam proses perencanaan
kurikulum.
Prosedur
pengorganisasian kurikulum menurut meliputi beberapa aspek yaitu prosedur buku
pelajaran, prosedur survei pendapat, prosedur studi kesalahan, prosedur
mempelajari kurikulum lainnya, analisis kegiatan orang dewasa, prosedur fungsi
sosial, prosedur minat kebutuhan.
Jenis-jenis
organisasi kurikulum memiliki bermacam-macam bentuk kurikulum, namun berbagai
bentuk kurikulum itu ada pengaruhnya terhadap pemikiran tentang kurikulum dan
sering pula dalam pelaksanaannya dapat dimodifikasikan, diperkaya dan
disesuaikan dengan pemikiran-pemikiran baru tentang kurikulum. Adapun
jenis-jenis organisasi kurikulum didalamnya mencakup separated-subject
curriculum, corelated curriculum, broad field curriculum dan integrated
curriculum.
Hubungan antar
bentuk kurikulum saling melengkapi. Karena pada kenyataannya semua bentuk
kurikulum mempunyai kelebihan disamping memiliki kekurangan masing-masing.
Sehingga perlu mengadopsi semua bentuk pada saat-saat tertentu atau pada mata
pelajaran tertentu yang relevan dengan pokok bahasan. Apabila hanya memilih
salah satu bentuk kurikulum itu tentu akan menimbulkan masalah, karena
kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa paling tidak ada tiga aspek yaitu
kognitif, efektif, dan psikomotorik.
Demikian makalah
dari kami semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan kita semua. Adapun
saran yang ingin disampaikan adalah:
1.
Kepada
para pendidik harus mampu mengorganisasikan kurikulum sehingga tujuan
pendidikan bisa dicapai;
2.
Kepara
para pembaca/ calon guru semoga bisa mengambil pengalaman dari makalah ini
mengenai organisasi kurikulum dam mencapai tujuan pendidikan:
3.
Apabila
ada kritik dan saran, silakan sampaikan langsung kepada kami. Karena ktitik dan
saran dari pembaca tentu sangat dibutuhkan untuk bahan intropeksi. Sehingga di
masa yang mendatang, kami dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi. Dan jika
ada kesalahan mohon domaafkan, karena kami hanyalah hamba Allah SWT yang tidak
luput dari khilaf dan lupa.
Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Baharun, Hasan. 2017. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta:
CV. Cantrik Pustaka.
Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Kurikulum SD.
Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional.
Habib,
Abdul Qur’ani. 2014. Organisasi Kurikulum dalam Pendidikan, Yogyakarta:
Suka Press.
Nasution, S. 2006. Asas-asas Kurikulum.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nizar, saifun. 2011. Jenis Kurikulum Berdasarkan struktur dan
Materi Mata Pelajarannya. Balikpapan: STAI Balikpapan Press.
Nurjanah, Asih. 2016. Model Kurikulum Terpadu dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam. Malang: UIN Malang Press.
Nurgianto, Burhanudin. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum
Sekolah. Yogyakarta: BPFE.
Rahnang, R. 2014. Organisasi Kurikulum Bahasa Arab. Jurnal Ilmiah
Islam Futura Vol. 8. No. 1.
Sa’ud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta.
Sukamadinata, Nana Syaodih. 2014. Pengembangan Kurikulum Teori
dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sulaiman, S. Agustus 2013. Pola Modern Organisasi Pengembangan
Kurikulum. Jurnal Ilmiah Didaktik Vol. XIV, NO. 1.
Winarso, Widodo. 2015. Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah. Cirebon:
CV Confident.
Zaini, Muhammad. 2009. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta:
Teras.
[1] S. Nasution, Asas-asas
Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 176
[2] Abdul Qur’ani
Habib, Organisasi Kurikulum dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Suka Press,
2014), hal. 3
[3] R. Rahnang, Organisasi
Kurikulum Bahasa Arab. Jurnal Ilmiah At-Turats Vol. 8. No. 1, Tahun
2014, hal. 3-4
[4] Widodo
winarso, Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Cirebon: CV Confident, 2015), hal. 62
[5] Ibid, hal.
63-64
[6] S. Sulaiman. Pola
Modern Organisasi Pengembangan Kurikulum. Jurnal Ilmiah Didaktik Vol.
XIV, NO. 1, Agustus 2013, hal. 2-3
[7] Muhammad
Zaini. Pengembangan Kurikulum. (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 61
[8] Hasan Baharun,
dkk. Pengembangan Kurikulum. (Yogyakarta: CV. Cantrik Pustaka, 2017) hal.
45-47
[9]Ibid, hal. 48
[10] Zainal Arifin.
Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2011) hal. 104-106
[11] Rahnang, Organisasi
Kurikulum..., hal. 4
[12] Zaini, Pengembangan
Kurikulum, hal. 64
[13] Ibid,
hal. 65.
[14] Asih Nurjanah,
Model Kurikulum Terpadu dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Malang: UIN Malang Press, 2016), hal 20-21
[15] Ibid, Hal. 22
[16] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal 66
[17] Asih Nurjanah,
Model Kurikulum..., hal. 25.
[18]
Departemen
Pendidikan Nasional, Pengembangan Kurikulum SD. (Jakarta : Pusat
Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal. 6
[19] Ibid,
hal. 7
[20] Ibid,
hal. 8
[21] Zaini,
Pengembangan Kurikulum, hal. 67-68
[22] Ibid,
hal. 69
[23] Saifun Nizar,
Jenis Kurikulum Berdasarkan struktur dan Materi Mata Pelajarannya,
(Balikpapan: STAI Balikpapan Press, 2011), hal. 5-6
[24] Zaini,
Pengembangan Kurikulum, hal. 69
[25]
Nizar, Jenis
Kurikulum..., hal. 8
[26] Sulaiman, Pola
Modern..., hal. 8.
[27] Zaini, Pengembangan
Kurikulum, hal. 69.
[28]
Ibid, hal. 70-71
[29] Sulaiman, Pola
Modern..., hal. 10.
[30] Udin Saefudin
Sa’ud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 112
[31] Sulaiman, Pola
Modern..., hal. 11
[32] Nana syaodih
Sukamadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014) hal. 3.
[33] Burhanudin
Nurgianto, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Yogyakarta: BPFE,
2008), cet. II, hal. 121
[34] Dakir, Perencanaan
dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hal. 198
[35] Mulyasa, Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2007), hal. 154
[36] Zaini,
Pengembangan Kurikulum, hal. 74
[37] S. Nasution, Asas-asas
Kurikulum, hal. 218

Posting Komentar
0 Komentar