Metode sami’iyah syafawiyah (Audio –lingual) - Bahasa Arab
Metode sami’iyah syafawiyah (Audio –lingual) - Bahasa Arab
Metode secara umum adalah segala hal yang
termuat dalam setiap proses pengajaran, baik itu pengajaran matematika,
kesenian, olahraga, ilmu alam, dan lain-lain. Semua proses pengajaran yang baik
maupun yang jelek pasti memuat berbgai usaha, memuat berbagai aturan serta di
dalamnya terdapat sarana dan gaya penyajian. Dan tidak mungkin sebuah proses
pengajaran tanpa adanya usaha untuk menyampaikan sesuatu kepada pembelajar.[1]
Metode sami’iyah syafawiyah (audiolingual)
merupakan suatu metode pengajaran bahasa arab yang lebih memprioritaskan
menyimak dan berbicara sebelum membaca dan menulis. Dalam istilah lain yaitu
metode belajar bahasa arab yang dilakukan dengan mendengarkan bunyi kemudian
mengucapkan sebagaimana mestinya. Jadi belajar belajar dengan metode ini
seseorang mendengarkan kata arab baik melalui kaset atau suara guru kemudian
menirukan secara berulang-ulang sehingga menguasai dan mengucapkan dengan
lancar.[2]
Penerapan metode pengajaran tidak akan
berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran
bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode
itu. Bahkan, metode bias saja akan menjadi penghambat jalannya proses
pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat
aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan
benar tentang karakteristik suatu metode, khususnya untuk metode sami’iyah
syafawiyah dalam pembelajaran bahasa arab.
A. Metode Sami’iyah Syafawiyah
1.
Pengertian Metode Sami’iyah syafawiyah
Metode sami’iyah syafawiyah (Audio
–lingual) adalah salah satu metode yang paling popular yang mendominasi
pengajaran bahasa sejak akhir tahun 1950-an hingga pertengahan 1970-an dari
abad ke 20 M. metode ini merupakan hasil pengadopsian yang dilakukan oleh para
ahli bahasa terapan terhadap pendekatan atau aliran Aural-oral approach.[3] Metode
sami’iyah Syafawiyah juga didasarkan atas beberapa asumsi, antara lain
bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran, oleh karena itu pengajaran bahasa
harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata atau
kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis. Asumsi
lain dari metode ini adalah bahwa bahasa kebiasaan. Suatu perilaku akan menjadi
kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pengajaran bahsa arab
harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repitisi.[4]
Sami’iyah
Syafawiyah secara
etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu sami’a yasma’u sam’an dengan
tambahan ya’ nasab yang memiliki arti mendengar. Adapun Syafawiyah berasal
dari bahasa Arab yang memiliki arti yang dibibir, dimulut, atau dengan lisan.
Metode sami’iyah syafawiyah (audiolingual)
merupakan suatu metode pengajaran bahasa arab yang lebih memprioritaskan
menyimak dan berbicara sebelum membaca dan menulis. Dalam istilah lain yaitu
metode belajar bahasa arab yang dilakukan dengan mendengarkan bunyi kemudian
mengucapkan sebagaimana mestinya. jadi belajar dengan metode ini seseorang
mendengarkan kata Arab baik melalui kaset atau suara guru kemudian menirukan
secara berulang-ulang sehingga menguasai dan mengucapkan secara lancar.[5]
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwasannya metode sami’iyah syafawiyah adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran bahasa Arab agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki dengan cara mendengarkan dan berbicara. Dengan metode ini praktek-praktek penggunaan bahasa Arab lebih ditekankan dan lebih banyak menggunakan kosa kata dan berbentuk muhawarah.
2. Ciri-ciri Penggunaan Metode Sami’iyah
Syafawiyah
a. Metode ini berangkat dari gambaran bahwa
bahasa adalah seperangkat symbol-simbol suara yang dikenal oleh anggota
masyarakat untuk mengadakan komunikasi di antara mereka. Maka tujuan pokok
penagjaran bahasa Arab adalah memberi bekal kemampuan bagi selain penutur Arab
agar mampu berkomunikasi aktif dengan penutur asli (Arab) dengan berbagai
keterampilan dan dalam berbagai situasi.
b. Guru dalam mengajarkan keterampilan
berbahasa mengikuti aturan asli pemerolehan bahasa pertama, yaitu dari
keterampilan mendengar dulu kemudian menirukan bicara orang-orang sekitar dan
mengucapkan kata-kata, membaca dan terakhir menulis.
c. Metode ini didasarkan pada pandangan ahli antropologi kebudayaan bahwasannya budaya bukanlah sekedar bentuk seni atau sastra, akan tetapi budaya adalah merupakan gaya hidup yang melingkupi kehidupan suatu kelompok yang berbicara dengan bahasa mereka.[6]
B. Langkah-langkah Penggunaan Metode Sami’iyah
Syafawiyah
Cara pengaplikasian metode Sam’iyah Syafahiyah dalam Pembelajaran Bahasa Arab secara umum setiap metode pasti memiliki karakteristik dan langkah-langkah tersendiri, begitu juga dengan metode Sam’iyah Syafahiyah (audiolingual). Sebagaimana nama metode ini, yaitu mendengarkan dan berbicara maka dalam aplikasinya lebih menekankan dua aspek ini dari pada dua aspek lainnya. Jika melihat konsep dasarnya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aplikasinya yaitu:[7]
1.
Pelajar harus menyimak, kemudian berbicara, lalu membaca, dan
akhirnya menulis;
2.
Tata bahasa harus disajikan dalam bentuk pola-pola kalimat atau
dialog-dialog dengan topik-topik situasi-situasi sehari-hari;
3.
Latihan (drill/al-tadribat) harus mengikuti operant-conditioning
seperti yang telah dijelaskan. Dalam hal ini hadiah adalah baik diberikan;
4.
Semua unsur tata bahasa harus disajikan dari yang mudah kepada yang
sulit atau bertahap (graded exercise/tadarruj/al-tadrib);
5.
Kemungkinan-kemungkinan
untuk membuat kesalahan dalam memberi respon harus dihindarkan, sebab penguatan
positif dianggap lebih efektif dari pada penguatan negatif.
Terlihat bahwa
metode audiolingual pada dasarnya tidak hanya menekankan latihan dan pembiasaan
para pelajar untuk membentuk kecakapan berbahasa, tetapi juga kecermatan
pengajar dalam membimbing mereka sangat diperlihatkan. Oleh sebab itu seorang
pengajar harus benar-benar menguasai prinsip-prinsip itu.
Untuk mencapai tujuan yang
diharapkan, diperlukan langkah-langkah yang dianggap cocok. Misalnya saja
langkah yang dipilih adalah sebagai berikut:
1.
Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang
akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang
lainnya.
2.
Penyajian dialog/ bacaan pendek yang dibacakan oleh guru berulang
kali, sedangkan pelajar menyimaknya tanpa melihat pada teksnya.
3.
Peniruan dan penghapalan dialog/ bacaan pendek dengan teknik meniru
setiap kalimat secara serentak dan menghapalkannya. Di dalam pengajaran Bahasa,
teknik ini dikenal dengan teknik “peniruan-penghapalan” (mimicry-memorization
technique/ uslub al-muhakah wal-hifzh).
4.
Penyajian pola-pola kalimat yang terdapat dalam dialog/ bacaan yang
dianggap sulit karena terdapat struktur atau ungkapan-ungkapan yang sulit. Hal
ini bisa dikembangkan dengan drill dengan teknik ini dilatih struktur dan kosa
kata. Contoh sebagai berikut:
Drill yang mengganti satu unsur (al-tadrib
al-namthi):
Guru : S1
انا
تلميذ
Pelajar : R1
انا
تلميذ
Guru : (memberi penguatan
dan rangsangan baru): S2
صحيح
,... نحن…!
Pelajar : R2
نحن تلاميذ
dan seterusnya.
Drill tanya jawab (tadrib al-su’al wa al-jawab):
Guru : S1
يكتب
احمدالدرس في الفصل
Guru : S2
ماذايعمل
احمد؟
Pelajar : R2
يكتب
الدرس
Guru : (memberi penguatan dan rangsangan baru):
S2
صحيح , ... واين ويكتب احمد؟
Pelajar : R2
في
الفصل
dan seterusnya.
Drill menyatukan kalimat (tadrib
tamzij al-jumal):
Guru : S1
ابراهيم
لايذهب الي المدرسة "هومريد"
...(لان)
Pelajar : R1
ابراهيم
لايذهب الي المدرسة لانه مريض
Guru : S2
"ابراهيم مريض", "ابرهيم
يقرا الكتا ب في بيته"...(لكن)
Pelajar : R2
ابراهيم
مريض, لكنه يقرا الكتاب في بيته
dan lain-lain.
Keterangan : S = Stimulus; R =
Respon.
5.
Dramatisasi dari dialog/ bacaan yang sudah dilatihkan diatas.
Pelajar yang sudah hapal disuruh mempraktikannya di depan kelas;
6.
Pembentukan kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan pola-pola
kalimat yang sudah dilatihkan;
7.
Penutupan
(jika diperlukan) misalnya dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.
Dalam hal ini pelajar disuruh berlatih kembali dalam menggunakan pola-pola yang
sudah dipelajari di sekolah.
C. Kelebihan dan Kekurangan Metode Sami’iyah
Syafawiyah
Sebagaimana metode langsung, metode audiolingual memiliki kelebihan
dan kekurangan. Berdasarkan kaakteristik metode ini, kita bisa melihat beberapa
aspek kelebiahan dan kekukrangannya.
Metode audiolingual memiliki
beberapa kelebihan, antara lain;
a.
para pelajar mempunyai lafal yang baik dan benar.
b.
para pelajar tidak tinngal diam dalam dialog tetapi harus terus
menerus memberi respon pada rangsangan yang dibeikan oleh guru.[8]
c.
Pembelajaran bahasa Arab diberikan secara bertahap.
d.
Menggunakan media dan lebih memperhatikan latihan-latihan (drill).
e.
Mementingkan kebudayaan bahasa dan berfikir dengan bahasa Arab
langsung.
f.
guru bisa membenarkan kesalahan berbahasa peserta didik secara
langsung ketika mereka berbicara.[9]
Selain memiliki banyak kelebihan
metode audiolingual juga memiliki kelebihan, antara lain;
a.
Para pelajar cenderung untuk memberi respon secara serentak (atau
secara individual) seperti “membeo” dan seing tidak mengetahui makna yang
diucapkannya.
b.
Para pelajar tidak diberi latihan dalam makna-makna lain dari
kalimat yang dilatih berdasarkan konteks.
c.
Sebetulnya para pelajar tidak berperan aktif tetapi hanya
memberikan respon pada rangsangan yang diberikan oleh guru.
d.
Metode ini berpendirian bahwa jika pada tahap-tahap awal para
pelajar tidak mengerti makna dari kalimat-kalimat yang ditirunya.[10]
e.
Hanya menitik beratkan pada aspek berbicara dan mengabaikan keterampilan
berbahasa yang lain.
f.
Menyamakan antara penguasa bahasa ibu dengan belajar bahasa Arab.
g.
Drill merupakan cara yang baik, tetapi ada cara-cara yang lebih
cepat yang dapat menghilngkan kebodohan.
h.
Memisahkan antar keterampilan berbahasa, sehingga tidak dapat
memenuhi semua kebutuhan peserta didik dalam belajar berbahasa Arab.
i.
Latian
pada metode ini hanya terbatas pada model ungkapan yang diberikan pada peserta
didik.[11]
metode sami’iyah syafawiyah adalah cara teratur yang digunakan untuk
melaksanakan pembelajaran bahasa Arab agar tercapai sesuai dengan yang
dikehendaki dengan cara mendengarkan dan berbicara. Dengan metode ini
praktek-praktek penggunaan bahasa Arab lebih ditekankan dan lebih banyak menggunakan
kosakata-kosakta dan berbentuk muhawarah.
Langkah-langkah penggunaan metode audiolingual, pengaplikasiannya
harus memperhatikan konsep dasar dan langkah-langkah yang cocok. Pada
hakikatnya metode ini lebih mengutamakan sisi pendengaran dan pengucapan, maka
setiap materi yang diajarkan harus diawali dari contoh yang di sajikan oleh
guru, kemudian baru murid suruh menirukan (stimulus respon).
Kelebihan pada metode ini pada umumnya para peserta didik selalu memberikan respon, karena pada metode ini dituntut untuk terus menerus memberi respon pada tangsangan yang diberikan oleh guru. Kekurangan pada metode ini terletak pada peserta didik tidak berperan aktif, tetapi hanya memberikan respon pada rangsangan yang diberikan oleh guru.
Amrullah, Ahmad Fikri, 2018, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,
Yogyakarta: Pustaka diniyah.
Effendi, Ahmad Fuad, 2012, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab,
Malang: Misykat.
Hermawan, Acep. 2011. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lailatul Nurfika, 2019, Penerapan
Metode Sami’iyah Syafawiyah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Arab Pada
Peserta Didik Kelas IV MI Darussalam Kolomayan Wonodadi Blitar, (Online), http://repo.iain-tulungagung.ac.id/6541/, diakses 31 Agustus.
Lutfiana, Nana, 2010, Aplikasi
Metode Sami’iyah Syafawiyah Dalam Pengajaran kalam Bahasa Arab Siswa Kelas VIII
Di MTsN Ngemplak Sleman Yogyakarta, skripsi, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah
UIN Sunan Kalijaga.
Mawaddah, Rifqiatul, 2012, Pembelajaran
Bahasa Arab Menggunakan Metode Sami’iyah Syafawiyah Siswa kelas VII Dan VII Mts
Negeri karangmojo gunungkidul Yogyakarta Tahun Ajaran 2011/2012, skripsi,
Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Rohman, Fathur, 2015, Metodologi
Penelitian Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: Madani
[1]
Ahmad Fikri Amrullah, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta:
Pustaka diniyah, 2018), h. 67
[2]
Nana Lutfiana, “Aplikasi Metode Sami’iyah Syafawiyah Dalam Pengajaran kalam
Bahasa Arab Siswa Kelas VIII Di MTsN Ngemplak Sleman Yogyakarta”,
skripsi, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010, h. 38
[3]
Rifqiatul Mawaddah, “Pembelajaran Bahasa Arab Menggunakan Metode Sami’iyah
Syafawiyah Siswa kelas VII Dan VII Mts Negeri karangmojo gunungkidul Yogyakarta
Tahun Ajaran 2011/2012”, skripsi, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN
Sunan Kalijaga, 2012, h. 16
[4] Ahmad
Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat,
2012), h. 41
[5]
Lailatul Nurfika, “Penerapan Metode Sami’iyah Syafawiyah Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Bahasa Arab Pada Peserta Didik Kelas IV MI Darussalam Kolomayan
Wonodadi Blitar”, (Online), http://repo.iain-tulungagung.ac.id/6541/,
diakses 31 Agustus 2019, h. 37-38
[6] Ahmad Fikri Amrullah, Metodologi
Pembelajaran…, h. 76-77
[7]
Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), hal. 188-190.
[8]
Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa…, h. 191.
[9]
Fatur Rahman, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: Madani, 2015),
hlm 170.
[10] Ibid,
h. 191.
[11] Ibid,
h. 171.

Posting Komentar
0 Komentar